Eng Ind

Warna Partai Sosialis di Malaysia

WIB. Diakses: 140x. Warna Partai Sosialis di Malaysia

UNUJA.AC.ID- Untuk pemilu sela di Semenyih, Negara Bagian Selangor, Partai Sosialis Malaysia (PSM) menurunkan Nik Aziz Afiq Abdul sebagai calon anggota parlemen. Pemilihan digelar karena pemilik kursi daerah pemilihan tersebut meninggal dunia. Berbeda dengan di Indonesia, negeri jiran itu tak mengenal penggantian antarwaktu, sehingga pemilihan umum kecil perlu dilakukan untuk mengisi kekosongan kursi legislatif.

Nama Nik Aziz Afiq Abdul mendadak mencuat karena keunikannya. Dia masih muda, baru 25 tahun, dan berkopiah putih, yang mencirikan Melayu konservatif. Nik Aziz adalah aktivis dan pengusaha lokal yang menjalankan jasa pijat refleksi di Semenyih Sentral.

Dalam pemilihan pada 2 Maret lalu, Nik Aziz bersaing dengan Zakaria Hanafi, kandidat dari Barisan Nasional; Muhammad Aiman Zainali dari Pakatan Harapan; dan Kuan Chee Heng, kandidat independen yang juga aktivis. Pada mulanya, Nik Aziz dianggap punya peluang besar karena Partai Sosialis Malaysia bersekutu dengan Partai Pribumi Bersatu Malaysia, partai besutan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

 

Sebaliknya, Zakaria dianggap berpeluang kecil karena Barisan Nasional sudah tak sekuat dulu. Setelah kalah dalam pemilihan umum pada Mei 2018, koalisi partai pimpinan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang berkuasa selama 60 tahun lebih ini babak belur. Najib Razak, pemimpinnya, dibelit skandal rasuah dan diseret ke meja hijau.

Namun hasil pemilihan umum sela itu mengejutkan. Zakaria ternyata berhasil menang dengan 19.780 suara. Aiman cuma dapat mengumpulkan 17.866 suara dan Nik Aziz 847 suara. Meski demikian, kemunculan perdana Nik Aziz lewat PSM telah menjadi perbincangan.

Kehadiran PSM dalam persaingan empat partai besar ini telah meramaikan pemilihan. Meskipun partai ini tidak mempunyai kursi di tingkat daerah dan pusat, partai beraliran kiri ini dikenal militan dalam memperjuangkan kaum miskin dan pekerja. Partai yang dipimpin Mohd Nasir Hasyim ini sering turun ke jalan untuk menyuarakan protes dan mewakili kaum tertindas. Sejauh ini, dua partai oposisi besar, UMNO dan Partai Islam se-Malaysia, relatif tak bersuara.

Tak hanya itu, salah satu pegiatnya, yang menjadi ketua tim sukses di PSM, S. Arulchevan, betul-betul mewakili wajah kaum pekerja. Dengan hanya bermodal sepeda motor, Arulchevan hilir mudik di tanah semenanjung untuk menyuarakan keyakinan politiknya: sosialisme adalah jalan untuk mewujudkan kesejahteraan ma-syarakat.

Meski sambutan masyarakat tak begitu besar, kehadiran PSM jelas menggambarkan keteguhan ideologi dan garis pemikirannya. Dengan logo tangan kiri terkepal ke atas, PSM hendak menunjukkan kesatuan rakyat untuk memperjuangkan masyarakat yang adil, setara, dan demokratis.

Seperti diterakan dalam web resminya, PSM menganut Marxisme, yang terlarang di negeri itu. Namun partai ini mempunyai kebijakan terbuka sejauh berkaitan dengan kecenderungan kiri dan menentang sektarianisme. Penegasan yang terakhir merupakan kritik keras terhadap partai-partai besar yang berdasarkan kelompok etnis dan agama. Ini bukan retorika di atas kertas, melainkan ditunjukkan PSM lewat struktur kepengurusan yang menggambarkan komposisi yang merata antara suku Melayu, Tionghoa, dan India.

Anehnya, meskipun Partai Aksi Demokratik (DAP) sebagai anggota koalisi Pakatan Harapan punya sayap Pemuda Sosialis DAP (DAPSY), organisasi ini tak mengambil sikap tegas terhadap banyak isu mengenai nasib buruh dan kaum miskin kota. Sayap kiri yang bergabung dengan Pakatan Keadilan Rakyat pun tak menonjolkan masalah upah minimum regional, yang tak mengalami kenaikan berarti setelah reformasi.

 

Untuk itulah PSM menegaskan mengapa rakyat bekas jajahan Inggris ini perlu partai yang beraliran sosialisme. Sistem ekonomi yang melekat pada model kapitalis gagal menaikkan taraf hidup mayoritas. Model ini hanya memperkaya segelintir orang melalui eksploitasi, perampasan tanah, kroni, korupsi, dan penghancuran lingkungan. Tentu ini bukan omong kosong. Isu terakhir itu terkait dengan polusi bauksit yang pelakunya tak diseret ke pengadilan.

Jadi, bagi PSM, partai berkuasa, yang berada di bawah payung Pakatan Harapan, dan oposisi, yang secara longgar diwakili oleh BN dan PAS, dianggap gagal karena tidak menyadari bahwa pangkal masalah kemiskinan dan jurang ekonomi adalah kapitalisme. Untuk itu, PSM menilai bahwa sistem politik dan ekonomi baru perlu menggantikannya agar memberi keuntungan kepada masyarakat, bukan syarikat (perusahaan).

Sejauh ini, kehadiran PSM telah mewarnai politik Negeri Jiran. Namun butuh waktu dan perjuangan panjang agar gagasan dan programnya diterima rakyat negeri itu. Bagaimanapun, PSM setidaknya telah menunjukkan wajahnya yang jelas sebagai alternatif dari Barisan Nasional dan Pakatan Harapan.

Ahmad Sahidah, Ph.D
Dosen Program Pascasarjana Universitas Nurul Jadid Paiton
*Tulisan juga dimuat di: Kolom Tempo (www.tempo.co) 13 Maret 2019

KANTOR

Universitas Nurul Jadid (UNUJA)
Karanganyar, Paiton, Probolinggo,
Jawa Timur, Indonesia
Kode Pos: 67291

Lihat Di Peta
Telp (0335) 771732
Fax (0335) 771732
unuja@unuja.ac.id

KERJA SAMA

Nasional
Internasional

2019 © PDSI Universitas Nurul Jadid | Sitemap